Semburat warna oranye menghiasi langit senja. Sesekali bola mata Nasha
bergerak memandangi keindahannya. Ah, malam sebentar lagi tiba. Nasha
sudah tak sabar menanti datangnya waktu makan malam bersama mama dan
papa. Rencananya nanti Nasha ingin mengajukan usulnya menyambut perayaan
Paskah yang tak lama lagi tiba. Nasha mengulum senyum mengingat-ingat
usulnya itu. Bukan usul yang luar biasa sebenarnya, tapi Nasha sudah
sejak lama ingin mewujudkannya.
Pada saat di meja makan, Nasha segera membuka pembicaraan. “Ma, Pa
sudah ada rencana untuk merayakan Paskah minggu depan belum?”
“Belum. Memangnya ada apa? Bukankah biasanya kita merayakan Paskah dengan mengikuti kebaktian di gereja?” jawab Papa.
“Itu kan biasanya. Boleh dong kalau sekali-kali kita nggak cuman ibadah di gereja aja?” balas Nasha.
“Ha... ha... jadi Nasha sudah bosan mengikuti drama Jalan Salib dan
perlombaan mencari telur Paskah?” Mama ikutan menanggapi.
“Yah Mama... bukannya bosan, tapi Nasha kan sudah gede, sudah 16
tahun lagi. Nasha ingin perayaan Paskah kali ini tidak hanya dilalui
begitu saja, tapi dengan sesuatu yang berkesan” Nasha menimpali.
“Lantas Nasha ingin Paskah yang seperti apa?” Papa gantian bertanya.
“Paskah yang memberkati orang lain” jawab Nasha cepat seraya menyantap makan malamnya.
“Maksud Nasha?” tanya Papa dan Mama bersamaan.
Nasha hanya terkekeh-kekeh melihat reaksi kedua orang tuanya yang penasaran.
“Bagaimana kalo Paskah nanti kita memasak makanan untuk pengemis,
gelandangan, saudara-saudara kita yang kurang mampu, juga untuk
orang-orang yang mungkin selama ini luput dari perhatian kita” Nasha
menjelaskan.
“Siapa saja contohnya, yang luput dari perhatian kita?” Mama menanyakan.
“Ya... orang-orang yang selama ini jarang terlihat di persekutuan
atau di gereja, mungkin karena sibuk, sungkan atau malah ingin undur.
Bisa juga untuk kenalan jauh atau sahabat lama” terang Nasha panjang
lebar.
“Usul yang bagus” kata Papa sambil manggut-manggut, “Darimana kamu dapat ide itu?”
“Nasha hanya ingin kita tidak sekedar melewati Paskah tanpa makna,
sedangkan saat Natal kita semua merayakan secara besar-besaran dan
meriah. Padahal justru saat Paskah, kasih Allah nyata lewat pengorbanan
Yesus di kayu salib”
“Ya, kebanyakan dari kita telah kehilangan makna Paskah yang sesungguhnya” Mama menyetujuinya.
Hari Sabtu, sehari sebelum Paskah tiba, Nasha dan Papa sudah sibuk
berbelanja untuk keperluan memasak sesuai usulnya. Mama di rumah
menyiapkan alat dan membaca-baca buku resep. Nasha senang karena mereka
sekeluarga bisa saling membantu mempersiapkan kejutan Paskah ini.
Kemarin Mama sudah memutuskan untuk memasak nasi, ayam panggang dan
lalapan untuk dibagi-bagikan pada pengemis dan gelandangan. Sedangkan
untuk saudara-saudara seiman yang selama ini terlupakan dan kurang
mendapat perhatian, Mama akan membuat kue brownies kukus dan pisang
keju.
Esoknya setelah pulang dari mengikuti kebaktian Paskah di gereja,
Nasha meluangkan waktunya sebentar untuk saling mengucapkan selamat
Paskah dengan jemaat yang lain.
“Lho Sha, kok buru-buru pulang sih? Kita kan mau bantuin anak-anak
Sekolah Minggu menyembunyikan telur Paskah?” tanya Sita, sahabatnya.
Nasha hanya tertawa kecil lalu membalas, “Mau bantu menyembunyikan atau ikut mencari nih?”
Sahabat-sahabatnya yang lain hanya terbahak-bahak.
“Sha, biasanya kamu ikut anak-anak Sekolah Minggu lomba melukis telur Paskah kan?” Hagai menawarkan.
“Itu kan dulu. Nasha hanya ingin memberi kesempatan buat yang lain” tolak Nasha halus.
“Wah, sudah sadar umur ya?” Hagar tersenyum-senyum, “Mau ada acara apaan sih?”
“Ada deh, mau tahu aja” ucap Nasha menirukan gaya iklan di televisi.
Nasha pun segera beranjak pulang setelah berpisah dengan
sahabat-sahabatnya. Nasha tidak merasa kecewa tidak merayakan Paskah
bersama teman-temannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Nasha malah
bersyukur bisa melewati Paskah tahun ini dengan cara yang berbeda.
Sesampainya di rumah, Nasha lalu berganti pakaian dan langsung
meraih celemek untuk membantu Mamanya memasak nasi, lauk pauk dan
kue-kue. Mamanya sudah mulai memasak lebih dulu.
“Hmm... lezatnya! Kapan nih Papa bisa mencicipi?” canda Papa.
“Mencicipi boleh tapi nggak gratis lho” ledek Nasha. Mereka pun tertawa bersama.
“Ma, gimana kalau nasinya dibikin nasi timbel khan Sunda itu lho” usul Nasha tiba-tiba.
“Boleh” jawab Mamanya.
Begitulah, Mama dan Nasha sibuk memasak dan Papa ikut membantu
membuat kardus buat kue. Sesekali mereka bercanda, kadang-kadang sambil
menyanyi pujian yang biasa mereka nyanyikan di gereja.
“Meski sedikit cape tapi Nasha lebih suka kalau kita sendiri yang
menyiapkan semua kejutannya” Nasha membuka obrolan kembali.
“Betul, karena kita sendiri jadi bisa merasakan sukacita berbagi kasih dengan mereka” Mama mengiyakan.
Dalam hati Nasha mengucap syukur pada Tuhan Yesus, karena tidak ada
kasih yang sebesar kasihNya dan tidak ada pengorbanan yang sebesar
pengorbananNya. Kesanggupan Nasha untuk berbagi kasih dengan orang lain
seperti ini, merupakan rencana dan pekerjaan Allah saja. Allahlah yang
berinisiatif, Nasha dan keluarganya hanya jadi saluran berkat Tuhan buat
orang lain.
Sudah jam sepuluh lewat tiga puluh menit saat loyang terakhir berisi
adonan kue pisang keju dimasukkan ke dalam oven. Kue brownies juga
sedang dikukus. Semuanya hampir beres, hanya tinggal memanggang ayam
sambil menunggu nasi timbel matang.
Nasha menyandarkan punggungnya di atas sofa yang empuk untuk
beristirahat sambil menunggu kuenya matang. Mamanya masih asyik
memanggang ayam sedang Papanya memeriksa daftar siapa-siapa saja yang
akan menerima kue nanti. Dari dapur terdengar suara Mama dan Papa
mengingat-ingat kalau-kalau ada kenalan, kerabat atau sahabat lama yang
belum dicatat. Ada dua belas orang jemaat gereja yang mendapat perhatian
Nasha dan orang tuanya untuk diberi kejutan saat Paskah ini. Sebagian
adalah jemaat yang jarang menghadiri kebaktian, sebagian lagi jemaat
yang kurang mampu.
Nasha memasukkan kue yang sudah matang satu per satu kedalam kotak
dus kue. Di atas tutup dus tersebut Nasha menambahkan kartu ucapan
bertuliskan
SELAMAT PASKAH
KEBANGKITAN KRISTUS ADALAH KEMENANGAN
DAN KESELAMATAN BAGI KITA
Sembilan dus berikutnya disiapkan untuk tetangga Nasha yang berada satu gang.
“Walaupun tidak semuanya seiman dengan kita tapi berkat dari Allah
juga harus dirasakan oleh orang-orang di sekeliling kita” kata Papa.
“Itu salah satu bukti kalau kita tidak menumpuk berkat Allah untuk
diri kita sendiri tapi dibagikan untuk orang lain juga. Jadilah berkat
tidak hanya bagi saudara seiman saja tapi bagi mereka yang belum
mengenal Kristus” Mama ikut menerangkan.
“Wah... berarti banyak juga yang harus kita siapkan” Nasha menjawab,
“Tapi nggak apa-apa, kan di Galatia enam ayat tujuh juga dibilang apa
yang kita tabur itu yang kita tuai. Nggak hanya menabur uang untuk
persembahan di gerea saja tapi bisa juga taburan dalam bentuk perbuatan
kita terhadap orang lain, betul kan?” sahut Nasha.
Pukul setengah dua belas tepat oven menyala. Itu tandanya kue-kue
tadi sudah matang. Nasha bergegas mengeluarkannya. Ada empat loyang kue
yang masih tersisa. Sambil mendinginkan kue-kuenya, Nasha membantu
Mamanya menyiapkan kotak makan yang berisi nasi timbel, ayam panggang,
lalapan dan juga air minum cup. Kira-kira pukul satu siang semuanya
sudah selesai. Nasha dan orang tuanya merasa sangat puas. Lalu mereka
berdoa bersama supaya setiap orang yang menerima berkat Tuhan tersebut
tidak hanya menerima berkat jasmani saja tapi juga menerima keselamatan
dari Yesus.
Kira-kira setengah jam kemudian, mereka mulai membagikan kotak-kotak
makanan untuk para pengemis dan gelandangan di emperan mall dan
trotoar. Bahkan pengamen, tukang sapu dan tukang becak pun juga
kebagian. Mereka sangat bersukacita saat melihat wajah-wajah kumal para
pengemis dan gelandangan itu berseri-seri saat menerima makanan
tersebut. Ucapan terima kasih yang tulus pun terdengar dari bibir
mereka. Walau sangat sederhana tapi begitu bermakna.
Nasha sampai terharu dibuatnya. Di tengah-tengah kehidupan
masyarakat kota, saat ucapan terima kasih sudah bukan lagi menjadi
budaya, ada orang-orang seperti mereka, yang untuk mereka pula Yesus
telah mati di kayu salib.
Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, lima puluh kotak makan
sudah habis dibagikan. Berikutnya mengantarkan kue-kue untuk tetangga
dan jemaat gereja. Sebagian merasa terkejut, sebagian lagi merasa
bersyukur karena begitu diperhatikan. Selanjutnya masih ada empat dus
kue lagi yang tersisa. Orang tua Nasha akhirnya memutuskan untuk
memberikan satu pada kawan lama mama yang tinggal di rumah susun dan dua
dus lagi pada pegawai kantor Papa yang bertugas sebagai cleaning
service dan satpam.
“Satu dus lagi buat siapa dong?” tanya Nasha sambil menunjuk pada dus kue terakhir.
Mama dan Papa hanya terdiam. Mencoba berpikir siapa yang akan
menerima kue terakhir itu. “Gimana kalau kita berikan pada Oma Bertha
saja” usul Papa tiba-tiba.
Nasha terkejut mendengar usul Papa. Siapa? Oma Bertha? Apa Papanya nggak salah bicara?
“Jangan ah. Yang lain aja. Kan ada Tante Rhuna, Oom Frans... siapa
sajalah yang penting jangan Oma Bertha” tegas Nasha tidak setuju.
“Memangnya kenapa Sha? Kalau Tante Rhuna dan Oom Frans kan sudah sering menerima kue dari kita” Mama menanyakan alasannya.
“Oma Bertha juga. Setiap Natal Mama selalu kirim kue dan parsel.
Sebulan yang lalu Mama malah memasak makanan untuk Oma” tukas Nasha.
Nasha jadi teringat Oma Bertha. Nasha punya kenangan buruk dengan
Omanya itu, meski sebenarnya beliau bukan orang tua kandung Mama Papanya
tapi masih ada hubungan kerabat. Mama dan Nasha pernah tinggal dengan
Oma Bertha selama dua tahun. Waktu itu Nasha kelas tiga SD, Papa Nasha
sedang ditugaskan di Papua. Menurut Nasha, Oma Bertha itu galaknya minta
ampun. Pukul lima pagi Nasha harus bangun pagi lalu menyapu dan
mengepel lantai. Mama Nasha disuruh memasak dan mencuci pakaian. Karena
Mama dan Nasha menumpang tanpa biaya disana, jadi pemakaian listrik, air
dan telepon harus sehemat mungkin. Teguran dan sidiran Oma Bertha sudah
jadi makanan tiap hari. Begitulah resiko menumpang di rumah orang.
“Sha, jangan mengingat apa yang sudah kita berikan untuk orang lain.
Kalau kamu masih mengingatnya itu tidak tulus namanya. Masa Nasha nggak
kasihan sama Oma Bertha, bertahun-tahun hidup seorang diri tanpa ada
yang memperhatikan” kata Mama lembut.
“Salah sendiri Oma galak dan pelit. Masih mending kalau Oma baik
sama kita. Kita sudah baik sama Oma tapi Oma tetep saja jahat sama kita”
kata Nasha.
“Bukannya Nasha sendiri pernah bilang, kalau apa yang kita tabur itu
yang akan kita tuai. Sekarang ada kesempatan untuk kita menabur
perbuatan baik, kenapa kita tidak menggunakannya?” Papa bersuara.
Sesaat suasana menjadi hening. Nasha diam terpaku. Nasha termenung mendengar ucapan Papanya tadi.
“Bicara memang mudah Sha. Tapi perlu praktek juga” lanjut Papa.
Nasha tersadar. Ia malu pada dirinya sendiri. Secara teori Nasha
mungkin jauh lebih tahu daripada orangtuanya, tapi aplikasinya, Nasha
nihil. Kedewasaan rohani tidak diukur dari dalamnya pengetahuan tentang
Alkitab, tapi dari perbuatan dan karakter yang serupa dengan Kristus.
“Ampuni Nasha, ya Tuhan” kata Nasha dalam hati.
“Baiklah, Nasha mengerti sekarang. Maafkan Nasha ya Pa, Ma. Nasha
yang akan mengantarnya sendiri ke rumah Oma Bertha. Save the best for
last” kata Nasha sungguh-sungguh.
“Lho serius Nasha mau mengantarnya sendiri? Rumah Oma kan jauh” tanya Mama kaget.
“Nggak apa-apa, Nasha ingin kasih kejutan buat Oma Bertha di hari Paskah ini” jawab Nasha.
Dalam perjalanan menuju rumah Oma Bertha, Nasha kembali melihat
indahnya langit senja. Saat mentari perlahan membenam di cakrawala mata,
ia menyadari bahwa kekristenan tercermin dari hubungan kita dengan
orang lain. Seperti yang Yesus lakukan, memikirkan dan mengutamakan
orang lain.
Nasha berbisik dalam hati. Terima kasih Tuhan untuk Paskah yang
indah dan penuh makna. Biarlah bukan hanya hubungan Nasha dengan Allah
yang diperdamaikan tapi dengan Oma Bertha juga. Terima kasih Yesus untuk
damai yang Kaubawa. (by: Seen)
Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu apakah jasamu?
... tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka
dengan tidak mengharapkan balasan.
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati
(Lukas 6:27-36)
Sumber :
http://anakmudanet.blogspot.com/2012/04/paskah-ala-nasha.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar